KHASANAH ISLAM
Oleh : Ustadz Wawan Juanda SH ( Ketua DPRD Kota Sukabumi )
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اصْبِرُوْا وَصَا بِرُوْا وَرَا بِطُوْا ۗ وَا تَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
yaaa ayyuhallaziina aamanushbiruu wa shoobiruu wa roobithuu, wattaqulloha la’allakum tuflihuun
“Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 200).
” Bulan Ramadhan adalah bulan yang mulia dan merupakan momen yang agung. Allah memperbesar pahala serta memperbanyak anugerah di dalamnya. Pintu-pintu kebaikan dibukakan bagi setiap orang yang bersemangat meraihnya.
Rasul shallallahu‘alaihi wa sallam bersabda,
“Apabila tiba Ramadhan, maka dibukalah pintu-pintu surga, dikunci rapat-rapatlah pintu-pintu neraka, dan diikatlah berbagai setan” (HR. Bukhari dan Muslim).
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin mengatakan bahwa pintu-pintu surga dibuka pada bulan ini karena banyaknya amal shalih dan sebagai motivasi untuk orang-orang agar mengerjakan amal shalih, serta dikunci rapat-rapatnya pintu-pintu neraka karena sedikitnya maksiat yang dikerjakan oleh orang-orang yang beriman, dan dibelenggunya setan-setan supaya mereka tidak banyak berulah sebagaimana ulah mereka di luar bulan Ramadhan.
Sampainya bulan Ramadhan adalah suatu nikmat besar bagi semua orang yang menjumpainya serta mengisinya dengan kembali kepada Allah ta’ala, meninggalkan perbuatan maksiat menuju taat, meninggalkan lalai menuju ingat dan meninggalkan jauh dari Allah ta’ala untuk kembali dekat kepada Allah ta’ala. Seseorang yang mendapat pahala dari Allah karena melakukan amal shalih maka sesungguhnya dia diliputi karunia Allah dari tiga sisi,
Pertama, Allah-lah yang mensyari’atkan berbagai amal shalih bagi para hamba-Nya yang menjadi sebab diampuninya dosa-dosa mereka dan ditinggikannya derajat mereka. Hal tersebut merupakan nikmat yang agung, seandainya Allah tidak mensyari’atkan amalan tersebut, maka tentu seorang hamba tidak boleh beribadah kepada Allah dengan amalan tersebut karena ibadah itu hanya diambil dari apa yang Allah wahyukan kepada Rasul-Nya.
Kedua, Allah-lah yang memberikan taufiq kepada manusia untuk melakukan amal shalih yang telah ditinggalkan oleh banyak manusia, seandainya bukan karena pertolongan Allah serta taufiq-Nya niscaya manusia tidak akan melakukan amal shalih tersebut.
Ketiga, Allah juga yang memberikan anugerah berupa pahala yang banyak, yaitu Allah melipatgandakan satu kebaikan menjadi sepuluh kali lipat hingga tujuh ratus kali lipat dan masih dilipat gandakan lebih banyak lagi.
Maka betapa besar anugerah yang Allah berikan kepada kita. Sungguh anugerah itu adalah dari Allah, ketika kita bisa beramal itu merupakan anugerah dari Allah, demikian juga ketika kita dapat meraih pahala juga merupakan anugerah dari Allah. Oleh karena itu, wahai saudariku… hendaknya kita bersemangat untuk bangkit dari kelalaian, memohon kepada Allah agar diberi taufiq untuk mencari bekal berupa taqwa, serta memanfaatkan waktu senggang kita untuk mengerjakan berbagai amal shalih.
Tidak berlebihan menyiapkan buka sampai ikhtilat (ngabuburit)
Tahukah engkau wahai saudariku… Allah ta’ala akan membalas amalan puasa dengan pahala yang berkali lipat tak terhingga batasnya. Kenapa demikian? Kata Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah, “karena puasa adalah bagian dari kesabaran”. Adapun ganjaran bagi orang yang bersabar terdapat dalam firman Allah Ta’ala,
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10).
Selain itu, Rasulullah shallallahu‘alaihi wa sallam juga mengabarkan adanya dua kebahagiaan yang akan diraih oleh orang yang berpuasa, yaitu kebahagiaan ketika berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Kebahagiaan ketika berbuka jelas dijumpai oleh setiap orang yang berpuasa karena dia mendapati dirinya diperbolehkan lagi untuk menikmati makanan, minuman dan bergaul dengan suami atau istri. Namun bukan berarti dia boleh berlebihan dalam manjalani saat-saat berbuka atau kegiatan dalam malam-malam Ramadhan dengan sesuatu yang tidak bermanfaat. Hendaknya kesabaran saat berpuasa terus berlanjut hingga momen-momen menjelang atau selepas berbuka, diantaranya dengan tidak berlebihan dalam menyiapkan hidangan berbuka, tidak menanti waktu berbuka dengan berjalan-jalan di tempat umum atau bercampur-baur dengan lawan jenis, tidak mendengarkan musik dan lain sebagainya. Kesabaran itu meliputi tiga macam, yaitu kesabaran dalam menjalani ketaatan kepada Allah, kesabaran dalam menjauhi perkara yang dilarang Allah, dan kesabaran dalam menghadapi taqdir Allah yang dirasa tidak mengenakkan.
Keutamaan memberi makan orang yang berpuasa
Diantara pahala yang agung dan kebaikan yang melimpah yang dapat kita raih pada bulan Ramadhan adalah dengan memberi makan untuk orang yang berbuka puasa.
Nabi shallallahu‘alaihi wa sallam bersabda:
“Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikitpun juga.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad).
Bersemangat mengajarkan anak-anak untuk berpuasa dan belajar Al-Quran
Syaikh Abdullah bin Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah ditanya tentang anak-anak yang sudah mumayyiz, kapankah diperintahkan untuk puasa? Beliau menjawab: “Adapun anak-anak yang belum baligh, apabila sudah mampu berpuasa maka hendaklah ia disuruh berpuasa dan diberi peringatan bila meninggalkannya.” Hal ini untuk melatih mereka beribadah dengan baik. Ar-Rubayyi’ binti Mu’awwidz ra?iyallahu‘anha berkata tentang keadaan bulan Ramadhan: “Kami mengerjakan puasa (bulan Ramadhan) dan kami menyertakan anak-anak kami puasa. Kami memberikan kepada mereka mainan dari bulu. Jika salah seorang dari mereka menangis minta makanan, kami memberikan mainan itu kepadanya hingga waktu berbuka tiba.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Selain itu, bersemangatlah wahai saudariku dalam memperbanyak membaca Al-Quran yang penuh berkah terutama pada bulan Ramadhan ini yang Al-Quran diturunkan di dalamnya. Sesungguhnya memperbanyak membaca Al-Quran pada bulan ini adalah suatu keistimewaan khusus. Jibril menyimak bacaan Al-Quran Nabi shallallahu‘alaihi wa sallam ketika Ramadhan setiap tahun sekali khatam, namun ketika tahun dimana nabi shallallahu‘alaihi wa sallam wafat, Jibril menyimaknya dua kali khatam untuk menguatkan dan memantapkan bacaan Nabi shallallahu‘alaihi wa sallam. Demikian juga orang-orang shalih terdahulu terbiasa memperbanyak tilawah Al-Quran pada bulan Ramadhan baik di waktu shalat maupun di luar shalat.
“خيركم من تعلم القرآن وعلمه” (HR. Bukhari)
Artinya: “Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.”
Hadis ini menunjukkan betapa pentingnya mempelajari dan mengajarkan Al-Qur’an dalam Islam.
Dalam hadits ini Nabi shallallahu‘alaihi wa sallam menjelaskan status sebagai sebaik-baik manusia dapat diraih dengan mengumpulkan dua hal, yaitu mengumpulkan antara proses belajar dan proses mengajar. Maka setelah seseorang belajar dan mampu menguasai bacaan Al-Quran selayaknyalah dia menyebarluaskan dengan mengajarkannya pada orang lain.
Menghadiri majelis ilmu
Diantara adab-adab yang dianjurkan saat puasa adalah memperbanyak tilawah Al-Quran, berdzikir, berdoa, shalat dan sedekah. Adapun tilawah Al-Quran dijelaskan oleh Syaikh Al-‘Utsaimin rahimahullah meliputi dua macam, yaitu membaca lafadznya dan mengikuti hukum-hukumnya. Mengikuti hukum-hukum yang terdapat dalam Al-Quran ialah dengan membenarkan apa yang diberitakan dalam Al-Quran serta mengamalkan apa-apa yang diperintahkan dan meninggalkan apa-apa yang dilarang, itulah tujuan terbesar dari diturunkannya Al-Quran sebagaimana firman Allah ta’ala:
“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.” (QS. Shad: 29).
Oleh karena itu, semaraknya majlis ilmu yang mengkaji hukum-hukum Allah yang tekandung dalam Al-Quran dan sunnah pada bulan Ramadhan merupakan kesempatan bagi kita. Jangan kita sia-siakan dan kita lewati begitu saja. Bulan-bulan lain mungkin tidak dapat kita nikmati kesempatan tersebut karena banyaknya aktivitas dan kesibukan.
*بارك الله فيكم وفي أموالكم*
Jangan lupa sedekah
ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚَ
“Maha suci Engkau ya Alloh, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu”.








