Khasanah Islam : Perihal Hutang piutang di dalam Islam

KHASANAH ISLAM

Oleh Ustadz Wawan Juanda SH ( Ketua DPRD Kota Sukabumi )

الّلهُمَّ صَلّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَىِ آلِهِ وَصَحْبِهِ
أَجْمَعْيْنَ

Alhamdulillah segala puji bagi Alloh SWT yang telah memberikan segala kemudahan dalam segala urusan.

Assalamualaikum Wr. Wb, Mohon maaf saya menyajikan materi ini bukan maksud untuk menyinggung atau menyindir sahabat yang berhutang tetapi semata mata untuk menyampaikan peringatan dalam Al-Qur’an tentang hukum utang piutang, sehingga kita bisa menghindari kesalahan dan keburukan akibat berhutang.

Utang pada asalnya mubah dan termasuk bentuk tolong-menolong.

Namun dalam Islam, utang adalah amanah besar yang akan dimintai pertanggungjawaban di dunia dan akhirat.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ اِلٰۤى اَجَلٍ مُّسَمًّى فَا كْتُبُوْهُ ۗ وَلْيَكْتُبْ بَّيْنَكُمْ كَا تِبٌ بِۢا لْعَدْلِ ۖ وَلَا يَأْبَ كَا تِبٌ اَنْ يَّكْتُبَ كَمَا عَلَّمَهُ اللّٰهُ فَلْيَكْتُبْ ۚ وَلْيُمْلِلِ الَّذِيْ عَلَيْهِ الْحَـقُّ وَلْيَتَّقِ اللّٰهَ رَبَّهٗ وَلَا يَبْخَسْ مِنْهُ شَيْــئًا ۗ فَاِ نْ كَا نَ الَّذِيْ عَلَيْهِ الْحَـقُّ سَفِيْهًا اَوْ ضَعِيْفًا اَوْ لَا يَسْتَطِيْعُ اَنْ يُّمِلَّ هُوَ فَلْيُمْلِلْ وَلِيُّهٗ بِا لْعَدْلِ ۗ وَا سْتَشْهِدُوْا شَهِيْدَيْنِ مِنْ رِّجَا لِكُمْ ۚ فَاِ نْ لَّمْ يَكُوْنَا رَجُلَيْنِ فَرَجُلٌ وَّا مْرَاَ تٰنِ مِمَّنْ تَرْضَوْنَ مِنَ الشُّهَدَآءِ اَنْ تَضِلَّ اِحْدٰٮهُمَا فَتُذَكِّرَ اِحْدٰٮهُمَا الْاُ خْرٰى ۗ وَ لَا يَأْبَ الشُّهَدَآءُ اِذَا مَا دُعُوْا ۗ وَلَا تَسْــئَمُوْۤا اَنْ تَكْتُبُوْهُ صَغِيْرًا اَوْ كَبِيْرًا اِلٰۤى اَجَلِهٖ ۗ ذٰ لِكُمْ اَقْسَطُ عِنْدَ اللّٰهِ وَاَ قْوَمُ لِلشَّهَا دَةِ وَاَ دْنٰۤى اَ لَّا تَرْتَا بُوْۤا اِلَّاۤ اَنْ تَكُوْنَ تِجَا رَةً حَا ضِرَةً تُدِيْرُوْنَهَا بَيْنَكُمْ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَا حٌ اَ لَّا تَكْتُبُوْهَا ۗ وَاَ شْهِدُوْۤا اِذَا تَبَايَعْتُمْ ۖ وَلَا يُضَآ رَّ كَا تِبٌ وَّلَا شَهِيْدٌ ۗ وَاِ نْ تَفْعَلُوْا فَاِ نَّهٗ فُسُوْقٌ بِۢكُمْ ۗ وَ اتَّقُوا اللّٰهَ ۗ وَيُعَلِّمُكُمُ اللّٰهُ ۗ وَا للّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ

yaaa ayyuhallaziina aamanuuu izaa tadaayangtum bidainin ilaaa ajalim musammang faktubuuh, walyaktub bainakum kaatibum bil-‘adli wa laa ya-ba kaatibun ay yaktuba kamaa ‘allamahullohu falyaktub, walyumlilillazii ‘alaihil-haqqu walyattaqillaaha robbahuu wa laa yabkhos min-hu syai-aa, fa ing kaanallazii ‘alaihil-haqqu safiihan au dho’iifan au laa yastathii’u ay yumilla huwa falyumlil waliyyuhuu bil-‘adl, wastasy-hiduu syahiidaini mir rijaalikum, fa il lam yakuunaa rojulaini fa rojuluw wamro-ataani mim mang tardhouna minasy-syuhadaaa-i ang tadhilla ihdaahumaa fa tuzakkiro ihdaahumal-ukhroo, wa laa ya-basy-syuhadaaa-u izaa maa du’uu, wa laa tas-amuuu ang taktubuuhu shoghiiron au kabiiron ilaaa ajalih, zaalikum aqsathu ‘ingdallohi wa aqwamu lisy-syahaadati wa adnaaa allaa tartaabuuu illaaa ang takuuna tijaarotan haadhirotang tudiiruunahaa bainakum fa laisa ‘alaikum junaahun allaa taktubuuhaa, wa asy-hiduuu izaa tabaaya’tum wa laa yudhooorro kaatibuw wa laa syahiid, wa ing taf’aluu fa innahuu fusuuqum bikum, wattaqulloh, wa yu’allimukumulloh, wallohu bikulli syai-in ‘aliim

“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu menuliskannya. Dan (keadaannya), atau tidak mampu mendiktekan sendiri, maka hendaklah walinya mendiktekannya dengan benar. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi laki-laki di antara kamu. Jika tidak ada (saksi) dua orang laki-laki, maka (boleh) seorang laki-laki dan dua orang perempuan di antara orang-orang yang kamu sukai dari para saksi (yang ada), agar jika yang seorang lupa maka yang seorang lagi mengingatkannya. Dan janganlah saksi-saksi itu menolak apabila dipanggil. Dan janganlah kamu bosan menuliskannya, untuk batas waktunya baik (utang itu) kecil maupun besar. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah, lebih dapat menguatkan kesaksian, dan lebih mendekatkan kamu kepada ketidakraguan, kecuali jika hal itu merupakan perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tidak ada dosa bagi kamu jika kamu tidak menuliskannya. Dan ambillah saksi apabila kamu berjual-beli, dan janganlah penulis dipersulit dan begitu juga saksi. Jika kamu lakukan (yang demikian), maka sungguh, hal itu suatu kefasikan pada kamu. Dan bertakwalah kepada Allah, Allah memberikan pengajaran kepadamu, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
(QS AL-BAQARAH; 2. AYAT: 282).

Orang yang mampu tetapi sengaja menunda pembayaran telah melakukan kedzoliman.

Kewajiban Menunaikan Utang dalam Islam

Dalil Al-Qur’an
QS. Al-Baqarah: 282
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ اِلٰۤى اَجَلٍ مُّسَمًّى فَا كْتُبُوْهُ ۗ
“Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, maka hendaklah kamu menuliskannya…”

Ayat terpanjang dalam Al-Qur’an, menunjukkan betapa seriusnya perkara utang.

Kaidah Fiqih

الحقوق لا تسقط بالتقادم

Hak manusia tidak gugur hanya karena berlalunya waktu.

Menunda Pembayaran Utang Termasuk Kedzoliman.

Hadis Shahih
Rosulullah SAW bersabda:
مَطْلُ الْغَنِيِّ ظُلْمٌ

“Menunda pembayaran utang bagi orang yang mampu adalah kezaliman.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Bukan sekadar dosa kecil, tapi kedzoliman, dan kedzoliman akan dibalas oleh Alloh.

Utang Bisa Menghalangi Ampunan Dosa.

Hadis
Rosulullah SAW bersabda:

“Diampuni bagi orang yang mati syahid semua dosanya kecuali utang.”
(HR. Muslim)

Syahid saja belum tentu bebas dari utang, apalagi dosa biasa.

Bahaya Utang di Akhirat: Ditahan masuk Surga.

Hadis
Rosulullah SAW bersabda:

“Jiwa seorang mukmin tergantung dengan utangnya sampai utang itu dilunasi.”
(HR. Tirmidzi, Hasan)

Ruhnya tertahan, tidak mendapatkan kenikmatan sempurna.

Orang yang Berniat Tidak Membayar Utang = Pencuri
Hadis
Rosulullah SAW bersabda:

“Barang siapa berutang dengan niat tidak melunasinya, maka ia akan bertemu Allah sebagai pencuri.”
(HR. Ibnu Majah)

Walau tampak “halal”, niat buruk menjadikannya haram.

Dampak Sosial dan Spiritual
Dampak Dunia:
Hilangnya kepercayaan
Rusaknya silaturahmi
Doa tidak mustajab
Hidup tidak berkah

Dampak Akhirat:
Pahala dipindahkan kepada orang yang didzolimi
Jika pahala habis, dosa orang lain dipindahkan kepadanya
(HR. Muslim – tentang muflis)

Ancaman bagi Orang yang Mampu tapi Sengaja Tidak Membayar utang

Hadis
Rosulullah SAW bersabda:

“Boleh mengumumkan keburukan orang kaya yang menunda pembayaran utang.”
(HR. Abu Dawud)

Islam membela hak orang yang didzolimi.

Sikap yang Benar bagi Orang Berutang

Berniat kuat untuk melunasi
Jujur jika belum mampu
Mencicil walau sedikit
Meminta ridho dan doa pemberi utang
Berdoa agar dilapangkan rezeki

Doa Rasulullah SAW
“Ya Alloh, aku berlindung kepada-Mu dari lilitan utang dan penindasan manusia.”
(HR. Abu Dawud)

Jangan remehkan utang, karena ia menyusahkan di dunia dan menghinakan di akhirat.

Lunasi sebelum ditagih, selesaikan sebelum ajal.

Semoga kita diberikan kesehatan kekuatan keselamatan dan rizki yang luas dan berkah

Jangan lupa sedekah

ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚَ
“Maha suci Engkau ya Alloh, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu”.

banner 728x250

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *