Khasanah Islam : Niatkan mendidik Anak agar menjadi Sholeh

KHASANAH ISLAM

Oleh : Ustadz Wawan Juanda SH ( Ketua DPRD Kota Sukabumi )

Anak yang saleh merupakan aset investasi paling berharga yang dimiliki oleh sebuah keluarga. Anak yang saleh tak hanya berakhir sebagai penyejuk jiwa tatkala di dunia, namun di akhirat kelak ia akan menjadi pemberat amal bagi kedua orang tuanya. Oleh karena itu, pendidikan terhadapnya tak boleh dipandang sebelah mata, melainkan harus disertai dengan tekad yang kuat, prinsip yang kokoh, dan kesungguhan yang nyata.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

رَبَّنَا وَا جْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَـكَ وَ مِنْ ذُرِّيَّتِنَاۤ اُمَّةً مُّسْلِمَةً لَّكَ ۖ وَاَ رِنَا مَنَا سِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا ۚ اِنَّكَ اَنْتَ التَّوَّا بُ الرَّحِيْمُ
robbanaa waj’alnaa muslimaini laka wa ming zurriyyatinaaa ummatam muslimatal laka wa arinaa manaasikanaa wa tub ‘alainaa, innaka angtat-tawwaabur-rohiim

“Ya Tuhan kami, jadikanlah kami orang yang berserah diri kepada-Mu, dan anak-cucu kami (juga) umat yang berserah diri kepada-Mu dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara melakukan ibadah (haji) kami dan terimalah tobat kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 128).

Ketahuilah bahwa tujuan utama mendidik anak dalam Islam adalah menjadikan anak sebagai seorang hamba. Bukan hamba dunia, melainkan hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala semata. Hamba yang bertauhid, menjunjung tinggi prinsip Islam, serta bangga mengamalkan syariat dalam kehidupan. Tentunya hal ini tidak dapat diraih kecuali dengan berpegang teguh dengan apa yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sabdakan,

تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ

“Aku telah tinggalkan pada kalian dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, yaitu Kitab Allah (Al-Qur’an) dan Sunah Rasul-Nya (hadis).” (Hadis shahih lighairihi, HR. Malik, Al-Hakim,)

Barang siapa yang menginginkan keberhasilan, hendaknya ia bersungguh-sungguh dalam menerapkan metode pendidikan yang telah terbukti dapat memperbaiki umat ini dari zaman ke zaman. Imam Malik rahimahullah berkata, “Tidak akan baik generasi akhir umat ini kecuali dengan sesuatu yang memperbaiki generasi awalnya.” Yakni dengan berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan Sunah serta memahaminya dengan pemahaman para sahabat radhiyallahu ‘anhum.

Mengapa kita perlu belajar parenting dari hadis-hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam?

Sebab Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah pendidik terbaik yang pernah ada di muka bumi. Sosok guru yang tak hanya fokus mengajarkan materi ataupun mengejar apresiasi duniawi, namun fokus memperbaiki dengan ilmu yang murni dan keteladanan yang membekas dalam sanubari. Tak hanya mengutamakan kelemahlembutan, akan tetapi juga menekankan ketegasan. Tak hanya menjadikan seseorang sibuk memoles apa yang nampak, namun mendorong seseorang untuk senantiasa memperhatikan apa yang sekiranya terluput. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إنَّما بُعثتُ لأتمِّمَ مَكارِمَ الأخلاقِ

“Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.” (HR. Al-Baihaqi dan Akhmd)
Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam adalah sosok guru yang metode pengajaran dan kesabarannya tak hanya berhasil memperbaiki satu dua kelas saja, melainkan mengubah secara total peradaban yang diselimuti oleh kegelapan kemaksiatan menuju kegemilangan dengan cahaya Islam. Maka sudah selayaknya umat Islam bersemangat untuk mengambil intisari pengajaran terbaik dari suri teladan terbaik sepanjang zaman, yakni Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Pengertian tarbiyah dan manhaj

Yang dimaksud penulis dengan kata at-tarbiyah yakni,

التعاملُ مع نفس العبد و جوارحه حسبَ النصوصِ الشرعية وفقَ طريقةِ السلف الصالح

“Cara berinteraksi dengan jiwa seorang hamba dan anggota tubuhnya sesuai dalil-dalil syar’i dengan mengikuti metode as-salaf ash-shalih.”

Adapun yang dimaksud dengan kata al-manhaj yakni,

التعاملُ في دعوة الناسِ حسبَ النصوصِ الشرعية وفقَ طريقةِ السلف الصالح

“Cara berinteraksi dalam menyeru manusia (berdakwah kepada manusia) sesuai dalil-dalil syar’i dengan mengikuti metode as-salaf ash-shalih.”

Hadis: Pentingnya niat dalam mendidik anak

عَنْ عُمَرَ بْنَ الخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ, وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى, فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ, فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ, وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا, أَوِ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا, فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Dari ‘Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Sesungguhnya setiap amal itu (tergantung) pada niatnya, dan sesungguhnya seseorang itu akan mendapatkan sesuatu sesuai dengan apa yang dia niatkan. Barang siapa yang hijrahnya karena Allah dan rasul–Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan rasul–Nya. Dan barang siapa yang hijrahnya kepada dunia yang hendak diraihnya, ataupun wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya (hanya bernilai) kepada apa yang diniatkannya itu.’” (HR. Bukhari )

Beberapa faidah dari hadis

Pertama: Pentingnya melandasi setiap perbuatan dengan niat yang lurus, termasuk dalam mendidik buah hati, yakni hanya untuk mencari keridaan Allah ‘Azza wa Jalla, bukan hanya untuk berbangga-bangga dengan prestasi yang dicapai oleh anak-anaknya.

Kedua: Kemahasempurnaan Allah ‘Azza wa Jalla dalam hal memberi kepada siapa saja yang Dia kehendaki dengan keutamaan-Nya dan dalam perkara mengazab siapa saja yang Dia kehendaki dengan keadilan-Nya. Ketahuilah bahwa Allah ‘Azza wa Jalla tidak pernah menzalimi seorangpun dari hamba-Nya, sebab setiap hamba akan mendapatkan sesuatu sesuai dengan apa yang dirinya niatkan. Meskipun niatnya hanya karena dunia, Allah ‘Azza wa Jalla tetap memberinya.

Ketiga: Barangsiapa yang menginginkan sesuatu dari amal yang dilakukannya, maka orang itu akan diserahkan kepada apa-apa yang dia niatkan. Apabila niatnya hanya untuk dunia, maka ia akan mendapatkannya, namun tidak dengan keberkahannya. Sebagaimana orang tua yang bersungguh-sungguh dan bersusah payah mendidik anak untuk mencari dunia, baik dalam bentuk harta maupun pujian dari manusia, niscaya mereka akan mendapatkannya. Akan tetapi dengan usahanya itu, tidaklah menjadikan langgeng dan bertambahnya kebaikan pada segala sesuatu yang dia dapatkan.

Keempat: Motivasi bagi hamba untuk senantiasa berlaku ikhlas, yakni membersihkan hati dari keinginan-keinginan yang dapat merusak amal saleh

Kelima: Barangsiapa yang menginginkan untuk menghadirkan keikhlasan dalam setiap amal saleh yang dilakukannya, maka Allah ‘Azza wa Jalla akan senantiasa membantunya dalam menghadirkan keikhlasan dan menolongnya untuk beramal. Begitupun dalam mendidik anak. Orang tua yang ikhlas dalam mendidik, Allah ‘Azza wa Jalla akan senantiasa membantunya untuk mensalehkan anak-anaknya.

Keenam: Keikhlasan orang tua dalam mendidik anak berbanding lurus dengan perubahan yang akan terjadi pada anak-anaknya. Semakin ikhlas orang tua, maka semakin mudah anak-anak dibimbing dan semakin nyata perubahan mereka. Begitupun sebaliknya. Ketahuilah bahwa setiap kaidah memiliki pengecualian. Ada sebagian anak yang Allah ‘Azza wa Jalla takdirkan sebagai ujian bagi kedua orang tuanya. Namun kabar gembira selalu ada, pahala akan tetap didapatkan oleh orang tua sesuai kadar keikhlasannya.

Ketujuh: Peringatan untuk berhati-hati dari perbuatan riya’, yakni beramal untuk dilihat, dipandang baik, ataupun dipuji oleh manusia. Luruskan niat kita. Jangan sampai bertahun-tahun kita bersusah payah berjuang mendidik anak-anak, akan tetapi yang kita lakukan tidaklah sedikitpun membuahkan pahala, melainkan menjadikan kita berhak untuk memanen dosa kelak di akhirat.

Kedelapan: Syarat diterimanya sebuah amal adalah dengan menggabungkan antara mengikhlaskan niat dan mengikuti syariat (ittiba’a)
Jangan lupa sedekah

ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚَ
“Maha suci Engkau ya Alloh, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu”.

banner 728x250

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *