Khasanah Islam : Jadikan Puasa Ramadhan mu untuk bekal pulang nanti

KHASANAH ISLAM

Oleh : Ustadz Wawan Juanda SH ( Ketua DPRD Kota Sukabumi )

Assalamualaikum Wr. Wb

Di dunia ini sebenarnya kita ini sebenarnya sedang berjalan…
bukan menuju mimpi, bukan pula sekadar mengejar hari esok.
Kita sedang safar,
perjalanan panjang menuju rumah yang hakiki.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

عَلِمَتْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ وَاَ خَّرَتْ
‘alimat nafsum maa qoddamat wa akhkhorot

“(maka) setiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakan dan yang dilalaikan(nya).”
(QS. Al-Infitar 82: Ayat 5)

يٰۤاَ يَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ
yaaa ayyatuhan-nafsul-muthma-innah

“Wahai jiwa yang tenang!”
(QS. Al-Fajr 89: Ayat 27)

ارْجِعِيْۤ اِلٰى رَبِّكِ رَا ضِيَةً مَّرْضِيَّةً
irji’iii ilaa robbiki roodhiyatam mardhiyyah

“Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya.”
(QS. Al-Fajr 89: Ayat 28).

Para Salaf tidak menyebut dunia sebagai tujuan,
mereka menyebutnya jalan.
Al Hasan Al Bashri رحمه الله berkata,
“Wahai anak Adam, engkau hanyalah kumpulan hari. Setiap hari berlalu, berkuranglah bagian dirimu.”
Maka setiap detik yang bergeser bukan hanya waktu yang pergi,
tetapi kita yang semakin dekat kepada pulang.
Dunia, dalam pandangan mereka, bukan tempat berlama-lama.
Ibnu Umar berkata, Rasulullah bersabda,
“Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau seorang musafir.”
(HR. Al Bukhari)
Musafir tidak membangun istana di tengah jalan.
Ia hanya membawa bekal seperlunya,
karena hatinya sudah tertambat pada tempat kembali.
Para Salaf menangis bukan karena dunia terasa sempit,
tetapi karena takut pulang tanpa bekal.
Mereka khawatir,
apakah langkah-langkah ini mendekatkan kepada Allah,
atau justru menjauh tanpa terasa?
Perjalanan menuju pulang bukan soal seberapa cepat kaki melangkah,
tetapi ke mana hati menghadap.
Ada yang jauh langkahnya, namun hatinya sudah sampai.
Ada yang dekat ajalnya, namun hatinya tersesat.
Dan “pulang” itu bukan sekadar kembali ke tanah,
tetapi kembali kepada Rabb
dengan wajah yang dikenali oleh amal shalih,
bukan oleh dosa yang disembunyikan.

Allaah SWT Berfirman :

يَٰٓأَيَّتُهَا ٱلنَّفْسُ ٱلْمُطْمَئِنَّةُ (27) ٱرْجِعِىٓ إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً (28)

Artinya:
“(yaitu) Wahai jiwa yang tenang (27) Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang tenang dan diridai-Nya (28)”

Konteksnya adalah tentang keadaan jiwa orang yang telah mencapai ketenangan dan kepuasan karena iman dan amal sholeh, lalu kembali kepada Allah dengan ridha dan diridai. Ada yang bisa ditanyakan?
Itulah panggilan pulang yang ditunggu para Salaf,
bukan dengan pesta,
tetapi dengan sujud, taubat, dan air mata yang jujur.

Maka jika hari ini engkau lelah,
ingatlah,
mungkin bukan dunia yang melelahkan,
tetapi rindu untuk pulang yang belum kita sadari.

Dan renungan ini hanyalah pintu kecil,
menuju perjalanan yang tak bisa diwakilkan,
dan pulang yang tak bisa ditunda.

Pulang yang Dirindukan

Kami lelah, yaa Rabb,
bukan oleh panjangnya jalan,
tetapi oleh beratnya menjaga hati
agar tetap lurus menuju-Mu.

Kami berjalan,
kadang terseok oleh dosa,
kadang terhenti oleh air mata,
namun harap kami tak pernah berhenti,
Engkau masih menunggu kami pulang.

Dunia sering menjanjikan pelukan,
namun selalu melepas dengan luka.
Ia menawarkan cahaya,
tapi redup sebelum senja.
Maka kami tahu,
ini bukan rumah kami.

Jika kelak langkah kami melambat,
dan nafas kami tak lagi panjang,
jangan biarkan kami pulang
tanpa Engkau ridhai.

Kami tak membawa apa-apa
selain sujud yang pernah basah,
taubat yang tertatih,
dan cinta yang tak selalu sempurna
namun jujur kepada-Mu.

Wahai Rabb yang Maha Lembut,
jika dunia ini hanyalah persinggahan,
maka jadikan kami musafir
yang rindu akhir perjalanan.

Dan saat Engkau memanggil,
biarkan kami menjawab
bukan dengan takut,
tetapi dengan rindu.
“Kembalilah… Pulanglah…”
dan kami pun pulang,
dengan hati yang pernah lelah,
namun tak pernah berpaling dari-Mu.
Jangan lupa sedekah

ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚَ
“Maha suci Engkau ya Alloh, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu”.

banner 728x250

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *