Khasanah Islam : Menghindari Dosa dan Ghibah di Bulan Ramadhan

KHASANAH ISLAM

Oleh : Ustadz Wawan Juanda SH ( Ketua DPRD Kota Sukabumi )

Setiap manusia pasti pernah terjerumus dalam perbuatan maksiat .

Kemasiatan yang paling mudah menjerumuskan seseorang adalah maksiat mata dan maksiat lisan.

Dan di antara kemasiatan lisan adalah dusta dan ghibah . Padahal, kedua ni ( ghibah dan dusta) adalah kategori dosa-dosa besar.
Dusta adalah dosa besar yang disejajarkan dengan syirik dan durhaka pada orang-orang tua. Sementara ghibah diumpamakan seperti memakan bangkai saudara kita sendiri yang telah mati. Atau seperti orang yang melakukan riba yang paling berat dan berbahaya. Betapa besarnya dosa jika setiap hari kita ‘mengonsumsi’ dusta dan ghibah.
.Setiap manusia pasti pernah terjerumus dalam perbuatan maksiat .

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَا عْبُدُوا اللّٰهَ وَلَا تُشْرِكُوْا بِهٖ شَيْـئًـا وَّبِا لْوَا لِدَيْنِ اِحْسَا نًا وَّبِذِى الْقُرْبٰى وَا لْيَتٰمٰى وَ الْمَسٰكِيْنِ وَا لْجَـارِ ذِى الْقُرْبٰى وَا لْجَـارِ الْجُـنُبِ وَا لصَّا حِبِ بِا لْجَـنْبِۢ وَا بْنِ السَّبِيْلِ ۙ وَمَا مَلَـكَتْ اَيْمَا نُكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَا نَ مُخْتَا لًا فَخُوْرًا

wa’budulloha wa laa tusyrikuu bihii syai-aw wa bil-waalidaini ihsaanaw wa bizil-qurbaa wal-yataamaa wal-masaakiini wal-jaari zil-qurbaa wal-jaaril-junubi wash-shoohibi bil-jambi wabnis-sabiili wa maa malakat aimaanukum, innalloha laa yuhibbu mang kaana mukhtaalang fakhuuroo

“Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri,”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 36).

Kemaksiatan yang paling mudah menjerumuskan seseorang adalah maksiat mata dan maksiat lisan. Dan di antara kemasiatan lisan adalah dusta dan ghibah .

Padahal, kedua kemaksiatan ini ( ghibah dan dusta) adalah kategori dosa-dosa besar.

Dusta adalah dosa besar yang disejajarkan dengan syirik dan durhaka pada orang tua.

Sementara ghibah diumpamakan seperti memakan bangkai saudara kita sendiri yang telah mati. Atau seperti orang yang melakukan riba yang paling berat dan berbahaya. Betapa besarnya dosa jika setiap hari kita ‘mengonsumsi’ dusta dan ghibah.

Sudah menjadi sunnatullah bahwa setiap penyakit tentu ada obatnya. Demikian juga penyakit hati dan lisan, seperti dusta dan ghibah .

Allah SWt memberi berbagai jalan untuk manusia agar dapat mengobati dirinya dari

Berikut cara agar bisa menghindari dusta dan ghibah

1. Meningkatkan rasa ‘muraqabatullah

yaitu sebuah rasa dimana kita senantiasa tahu bahwa Alloh mengetahui segala tindak tanduk yang kita lakukan, baik ketika seorang diri maupun di saat bersama-sama.

Baik ketika orang yang kita bicarakan ada di antara kita ataupun tidak ada. Allah pasti mengetahuinya.

2. Meningkatkan keyakinan kita bahwa setiap orang yang kita bicarakan, pasti akan dimintai pertanggung jawabannya dari Allah SWt kelak.

Dalam salah satu ayatnya,

Allah SWt berfirman:
ayat Al-Quran tentang ucapan kita dicatat oleh malaikat:

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

Artinya: “Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaf: 18)

Ayat ini menjelaskan bahwa setiap ucapan kita dicatat oleh malaikat yang selalu hadir di dekat kita.
“Tidak ada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya Malaikat pengawas yang selalu hadir.”

3. Menahan emosi dan mencegah amarah.

Karena keduanya merupakan faktor yang dapat membawa seseorang pada ghibah dan dusta.

4. Tabayyun (mengecek) terhadap informasi yang datang dari seseorang, sebelum membicarakannya pada orang lain.

Dalam Al-Qur’an, dan Allah berfirman:
Berikut ayat Al-Quran tentang memeriksa berita dari orang fasik:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesali perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat: 6)

5. Beramal dan berusaha untuk dapat menciptakan suasana yang ‘Islami’, di lingkungan kerja, rumah, dan sebagainya dengan membuat kesepakatan dan keteladanan untuk tidak membicarakan kejelekan orang lain, apalagi berbohong.

Di samping itu juga keharusan adanya teguran, kepada orang yang secara sengaja atau tidak dalam membicarakan orang lain.

6. Jika kita merupakan orang yang menjadi objyek pembicaraan, kitapun harus menanggapinya dengan akhlak yang baik dan bijaksana. Kita mencek kembali, mengapa mereka membicarakan kita, siapa saksinya kemudian diselesaikan dengan baik.

7. Imbauan secara khusus kepada orang-orang yang menjadi panutan, baik dalam kantornya, masyarakatnya atau di mana saja, untuk menjauhi hal ini (ghibah dan dusta), supaya mereka yang berada di bawahnya dapat mencontoh. Karena apabila para panutan ini memberikan keteladanan yang buruk, maka para bawahannya pun akan mengikutinya.

8. Mengajak orang lain untuk menghindari diri dari penyakit ini dengan cara tidak membicarakan orang lain.

Tidak mendengarkan jika ada orang yang membicarakan orang lain, memberikan teguran dan lain sebagainya.

9.Mengingat-ingat kembali tentang hukum dusta dan ghibah serta akibat yang akan ditimbulkan dari adanya hal seperti ini.

Karena itu, hendaknya kita memperbaharui taubat kita kepada Allah SWt dan berjanji untuk tidak terjerumus kembali pada ghibah dan dusta, semampu kita.

Apalagi jika kita merenungi bahwa salah satu sifat mukmin adalah sebagaimana yang digambarkan dalam hadits berikut:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ (رواه البخاري)

Dari Abdullah bin Amru RA, Rosululloh SAW bersabda: “Seorang muslim adalah seseorang yang menjadikan muslim lainnya selamat (terjaga) dari lisan dan tanganya. Sedangkan muhajir adalah orang yang meninggalkan sesuatu yang dilarang Allah Ta’ala.
(HR. Al-Bukhari).

Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda

“Ajarkanlah aku suatu do’a yang bisa aku panjatkan saat shalat!”.

Maka Beliau pun berkata:
“Bacalah!
Semoga kita di jauhkan dari dosa.

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ ظُلْمِي وَمِنْ ظُلْمِ غَيْرِي

Artinya: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari menzolimi diriku sendiri dan dari disakiti oleh orang lain.” (HR. Bukhari dan Muslim)

اللَّهُمَّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي ظُلْمًا كَثِيرًا وَلَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ فَاغْفِرْ لِي مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ وَارْحَمْنِي إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Artinya: “Ya Allah, aku telah menzolimi diriku sendiri dengan kezaliman yang banyak, dan tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau. Maka ampunilah aku dengan ampunan dari-Mu, dan rahmatilah aku. Sesungguhnya Engkau adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Semoga kita diberikan kesehatan kekuatan keselamatan dan rizki yang luas dan berkah

Jangan lupa sedekah
ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚَ
“Maha suci Engkau ya Alloh, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu”

banner 728x250

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *