Khasanah Islam : Kadar Iman Seorang Manusia yang Naik Turun

KHASANAH ISLAM

Oleh : Ustadz Wawan Juanda SH ( Ketua DPRD Kota Sukabumi )

Keimanan seseorang dalam beribadah kepada Allah SWt terkadang ada kadar peningkatan juga kadar penurunan di dalam melaksanakan ke istiqomahan beribadah kepada Allah SWt.

Naik turun nya keimanan seseorang sejak seribu tahun yang lalu oleh Rasulullah SAW sudah di jelaskan, bahwa seseorang di dalam beribadah nya kepada Allah SWt terkadang ada peningkatan, dan terkadang ada penurunan dalam intensitas melaksanakan ibadah kepada Allah SWt.

Maka dari itu, ketika Rasulullah SAW melaksanakan perjalanan Isra Mi’raj, yang pada inti dari perjalanan tersebut adalah meminta kepada Allah SWt agar di dalam melaksanakan kewajiban Sholat, Rasulullah SAW meminta kepada Allah SWt agar waktu Sholat dapat di kurangi, yang tadi nya harus melaksanakan kewajiban Sholat 50 waktu yang di perintahkan Allah SWt, Rasulullah SAW meminta agar di peringan menjadi 5 waktu, karena Umat Islam di kehidupan selanjut nya pasti di dalam keimanan nya terkadang ada naik dan turun dalam melaksanakan ibadah kepada Allah SWt

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

سُبْحٰنَ الَّذِيْۤ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَـرَا مِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَ قْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَا ۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
sub-haanallaziii asroo bi’abdihii lailam minal-masjidil-haroomi ilal-masjidil-aqshollazii baaroknaa haulahuu linuriyahuu min aayaatinaa, innahuu huwas-samii’ul-bashiir

“Maha Suci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.”(QS. Al-Isra’ 17: Ayat 1).

Rasululah SAw bersabda :

إِنَّ الْإِيمَانَ لَيَزْدَادُ وَيَنْقُصُ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا يَزِيدُهُ وَمَا يُنْقِصُهُ قَالَ إِذَا ذَكَرْنَا رَبَّنَا وَخَشِينَاهُ زَادَنَا إِيمَانًا وَإِذَا غَفَلْنَا وَضَيَّعْنَا وَأَهْمَلْنَا نَقَصَ إِيمَانُنَا

Artinya: “Iman itu bertambah dan berkurang. Mereka bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apa yang menambahnya dan apa yang menguranginya?’ Beliau menjawab, ‘Jika kita mengingat Tuhan kita dan takut kepada-Nya, maka iman kita bertambah. Jika kita lalai, menyia-nyiakan, dan mengabaikan, maka iman kita berkurang.'”
Iman itu naik turun dan dosa itu bertingkat-tingkat serta bermacam-macam. (HR Buchori)

Kadang semangat beramal shaleh kadang pula lemah.

Kadang taat dan kadang pula maksiat.

Begitu juga dengan dosa, mungkin dosa kita bukan meninggalkan shalat, riba atau zina tapi dosa kita sombong, ghibah dan sebagainya

Ada yang Allah beri hidayah lewat lisannya tapi tidak dengan matanya.

Ada yang Allah mudahkan puasa sunnahnya tapi tidak dengan sedekahnya.

Demikianlah, sejatinya setiap manusia pasti melakukan dosa dan setiap manusia jg memliki kemampuan beramal yg berbeda-beda.

Sungguh ada banyak sebab dan hal yg tidak kita ketahui dalam diri seseorang, maka hendaknya kita jangan mudah merendahkan atau mencela dosa² seseorang.

Karena tidak ada alasan satupun kita boleh merendahkan dan meremehkan orang lain, sekalipun dia adalah pelaku maksiat.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

وَكُلُّ مَعْصِيَةٍ عُيِّرَتْ بِهَا أَخَاكَ فَهِيَ إِلَيْكَ يَحْتَمِلُ أَنْ يُرِيْدَ بِهِ أَنَّهَا صَائِرَةٌ إِلَيْكَ وَلاَ بُدَّ أَنْ تَعْمَلَهَا

“Setiap maksiat yang dijelek-jelekkan pada saudaramu, maka itu akan kembali padamu. Maksudnya, engkau bisa dipastikan melakukan dosa tersebut.” (Madarijus Salikin, 1: 176)

Dengan demikian bisa jadi kita yg saat ini merasa cukup alim dan shalih sehingga merasa lebih baik dan bangga dengan ibadahnya, namun akhirnya tergelincir dalam dosa sebab meremehkan serta merasa ujub.

Di satu sisi ada seseorang yg mungkin kita nilai hina banyak melakukan dosa, namun ia diam² bangun di keheningan malam, mengetuk pintu langit, menangisi, menyesali, dan memohon ampun kepada Allah atas segala dosa² nya dan Allah pun mengampuninya.

Simak bagaimana ungkapan Al-Hasan al-Bashri rahimahullah beliau mengatakan,

إِنَّ الرَّجُلَ يُذْنِبُ الذَّنْبَ فَلَا يَنْسَاهُ وَمَا يَزَالُ مُتَخَوِّفًا مِنْهُ حَتَّى يَدْخُلَ الْجَنَّةَ

“Sungguh ada seorang yang melakukan dosa lantas dia senantiasa ingat dosa tersebut dan khawatir dampak buruknya. Akhirnya dia pun masuk surga karenanya.” (Az-Zuhd karya Imam Ahmad nomor 338)

Begitulah terkadang perbuatan dosa itu bisa menjadi ‘sebab’ masuk surga.

Hal ini bisa terjadi manakala dosa tersebut membuahkan inabah.

Inabah adalah kondisi ibadah dan amal sholih setelah berbuat dosa dan bertaubat jauh meningkat drastis dibandingkan kondisi sebelum berbuat dosa, sehingga ia semakin menjadi lebih baik, dan hal ini ia dijadikan motivasi untuk selalu semangat beribadah dan beramal shalih.

Untuk itu wahai saudaraku, andai kau tau bagaimana perjuangan seorang pendosa dalam menemukan jalan kembali kepada-Nya, tentu kau takkan pernah merasa jumawa dihadapannya.

Maka hendaknya kita jangan pernah merasa bangga dengan kebaikan dan keshalihan yg kita miliki, tetap rendah hati dan jangan merendahkan dan menertawakan dosa orang lain, Sebab bisa jadi Allah akan mengampuni mereka atas ketidaktahuannya, Tetapi Allah pasti akan menghukum kamu atas kesombonganmu.

Jangan lupa sedekah
ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚَ
“Maha suci Engkau ya Alloh, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu”

banner 728x250

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *